Senin, 06 April 2015

SISTEM ENDOKRIN KELENJAR THYROID


SISTEM ENDOKRIN 

KELENJAR THYROID

Tujuan Instruksional Umum
  Mahasiswa mampu menganalisa suatu masalah yang behubungan dengan gangguan sistem endokrin
Tujuan instruksional Khusus
  Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi fisiologi kelenjar endokrin
  Mahasiswa mampu menjelaskan kelainan pada kelenjar tiroid
  Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis pada kelainan kelenjar tiroid
  Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab kelainan kelenjar tiroid
  Mahasiswa mampu menjelaskan penanganan pada kelainan kelenjar tiroid
Scenario 1 ;
Ibu Ida 48 th berobat ke dokter  karena sudah 2 bulan ini berat badan terus menurun padahal ibu ida makan seperti biasa. Dan hari ini ketika di periksa TD nya, ternyata meningkat 150/90 mmHg, ibu Ida semakin bingung karena dileher teraba benjolan. Dokter menyarankan untuk periksa T3 dan T4.
Key word ;
-          Usia 48 th
-          BB menurun
-          TD meningkat 150/90 mmHg
-          Benjolan dileher
-          Periksa T3 dan T4
Pertanyaan ;
1.      Apa penyebab berat badan menurun?
2.      Apa penyebab TD meningkat?
3.      Apa yang menyebabkan benjolan dileher?
4.      Apakah ada hubungannya berat badan menurun, TD meningkat, benjolan dileher dengan system endokrin dan metabolisme?
5.      Bagaimana patoflow dari gejala yang ada pada scenario?
6.      Sebutkan gejala-gejala lain yang akan muncul dengan penyakit tersebut?
7.      Apa klasifikasi dari benjolan dileher tersebut?
8.      Apakah adanya benjolan dileher ada hubungannya dengan kelenjar thyroid?
9.      Apa itu T3 dan T4?
10.  Apa tujuan dari pemeriksaan T3 dan T4?
11.  Bagaimana cara pemeriksaan T3 dan T4?
12.  Bagaimana cara anamnesis dan dan pemeriksaan fisik dengan gejala-gejala yang ada diskenario?
13.  Apa saja pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan untuk mendiagnosa penyakitnya?
14.  Apa saja penatalaksanaan yang harus dilakukan?
15.  Apa saja kemungkinan komplikasi dari gejala penyakit tersebut?
16.  Apa organ-organ yang berperan pada gejala penyakit tersebut?

Jawaban ;
1.      Apa penyebab BB menurun b.d system endokrin?
Dalam bidang endokrin dan metabolisme, terdapat dua penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat badan secara drastis yaitu :
A.     DIABETES MELITUS
Diabetes melitus (DM), yaitu suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh meningkatnya kadar glukosa dalam darah sebagai akibat adanya defek sekresi insulin dan atau adanya resistensi insulin. Apabila penyakit ini dibiarkan tidak terkendali, maka akan menimbulkan komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan dan amputasi.
Mekanisme penurunan berat badan pada penderita DM adalah sebagai berikut:
Oleh karena terjadi defek sekresi insulin (insulin kurang) maupun adanya gangguan kerja insulin (resistensi insulin) mengakibatkan glukosa darah tidak dapat masuk kedalam sel otot dan jaringan lemak. Akibatnya untuk memperoleh sumber energi untuk kelangsungan hidup dan menjalankan fungsinya, maka otot dan jaringan lemak akan memecahkan cadangan energi yang terdapat dalam dirinya sendiri melalui proses glikogenolisis dan lipolisis. Proses glikogenolisis dan lipolisis yang berlangsung terus menerus pada akhirnya menyebabkan massa otot dan jaringan lemak akan berkurang dan terjadilah penurunan berat badan.
B.     TIROTOKSIKOSIS
Tirotoksikosis adalah suatu sindroma klinik yang terjadi akibat meningkatnya kadar hormon tiroid (T3) yang beredar dalam tubuh. Triyodotironin (T3) akan meningkatkan komsumsi oksigen dan produksi panas melalui rangsangan tarhadap Na+-K+ ATPase pada hampir semua jaringan tubuh (kecuali otak, limpa dan testis) yang pada akhirnya akan meningkatkan basal metabolisme rate. Hormon tiroid juga akan merangsang peningkatan sintesis struktur protein dan akhirnya menyebabkan berkurangnnya massa otot.
Penyebab paling umum dari penurunan berat badan mendadak adalah gangguan endokrin. Endokrin mengatur fungsi tubuh. Ketika kerjanya terganggu, tubuh akan membakar lebih banyak kalori, menyebabkan kelenjar tiroid bekerja berlebihan yang pada gilirannya membuat metabolisme meningkat dan tubuh tidak dapat menyerap semua nutrisi yang dibutuhkan seperti pada penyakit hipertiroid.

2.      Apa penyebab TD meningkat?
Tekananan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Hipertensi dalam bahasa inggrisnya adalah Hypertension, Hypertension berasal dari dua kata yaitu Hyper yang berarti tinggi, dan Tension yang berarti tegangan. Dalam scenario, penderita mengalami hipertensi yang termasuk hipertensi sekunder.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder antara lain :
o   Penyakit Ginjal : Stenosis arteri renalis, Pielonefritis, Glomerulonefritis, Tumor-tumor ginjal, Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal), Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
o   Kelainan Hormonal : Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing, Feokromositoma,
o   Obat-obatan : Pil KB, Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, Penyalahgunaan alkohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
o   Penyebab Lainnya : Koartasio aorta, Preeklamsi pada kehamilan, Porfiria intermiten akut, Keracunan timbal akut.
Hipertiroid atau kelebihan hormon tiroid ditandai dengan mudah kepanasan (merasa gerah), penurunan berat badan, jantung berdebar dan tremor. Hormon tiroid yang berlebih merangsang aktivitas jantung, meningkatkan produksi darah, dan meningkatkan resistensi pembuluh darah sehingga menimbulkan hipertensi.
Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid ditandai dengan kelelahan, penurunan berat badan, kerontokan rambut dan lemah otot. Hubungan antara kekurangan tiroid dan hipertensi belum banyak diketahui, namun diduga bahwa melambatnya metabolisme tubuh karena kekurangan tiroid mengakibatkan pembuluh darah terhambat dan tekanan darah meningkat.
3.      Apa yang menyebabkan benjolan dileher? Spesifikasinya, Klasifikasi, dan anamnesa serta pemeriksaan fisiknya?
Benjolan yang ditemukan pada leher bisa bermacam-macam asal dan penyebabnya. Mulai dari kulit sampai dengan organ yang paling dalam daerah leher. Jika ditinjau dari asalnya, benjolan tersebut bisa berasal dari kulit, jaringan otot, jaringan saraf, jaringan pembuluh darah, jaringan tulang dan tulang rawan, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, atau bisa juga berasal dari kelenjar parotis. Penyebabnya pun bisa karena infeksi dan inflamasi, neoplasia, kista, metastasis, dan lain-lain.
STRUMA
A. Definisi
Kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi seperti tirotosikosis atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit tiroid noduler. Berdasarkan patologinya, pembesaran tiroid umumnya disebut struma.
B. Klasifikasi dan Etiologi
Berdasarkan American Society for Study of Goiter, terdapat 4 macam klasifikasi struma, yaitu:
1.      Struma Nontoksik Difusa
Penyebab dari penyakit ini bermacam-macam, misalnya defisiensi iodium; Autoimmun thyroiditis: Hashimoto atau postpartum thyroiditis; Stimulasi reseptor TSH oleh TSH dari tumor hipofisis, resistensi hipofisis terhadap hormon tiroid, gonadotropin, dan/atau tiroid-stimulating immunoglobulin; Inborn errors metabolisme yang menyebabkan kerusakan dalam biosynthesis hormon tiroid; Terpapar radiasi; Resistensi hormon tiroid; Agen-agen infeksi; Suppuratif Akut : bacterial; Kronik: mycobacteria, fungal, dan penyakit granulomatosa parasit; Keganasan tiroid
2.      Struma Nontoksik Nodusa
Penyebab dari pernyakit ini, misalnya: kekurangan atau kelebihan iodium yang terjadi pada pasien dengan preexisting penyakit tiroid autoimun; Goitrogenik (obat-obatan: propiltiourasil, litium; makanan: kubis, lobak; dan agen lingkungan: resorsinol, phenolic), riwayat radiasi kepala dan leher.
3.      Struma Toksik Difusa
Termasuk penyebab dalam struma toksik difusa adalah Grave’s disease, yang merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui penyebab pastinya.
4.      Struma Toksik Nodusa
Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level T4; Aktivasi reseptor TSH; Mutasi somatik reseptor TSH dan Protein Ga.
Presentasi Klinis dan Diagnosis
1.      Struma Nontoksik
Struma non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada pasien eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses inflamasi. Dapat difus dan simetri atau nodular. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodosa. Dan apabila teraba pembesaran yang batasnya tidak jelas, kemungkinan termausk jenis difusa. Struma nodosa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme disebut struma nodosa non-toksik. Struma nodosa atau adenomatosa terutama ditemukan di daerah pegunungan karena defisiensi iodium. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Struma multinodosa terjadi pada wanita usia lanjut dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa hiperplasi sampai bentuk involusi. Kebanyakan penderita struma nodosa tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal tetapi kebanyakan berkembang menjadi multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau adenoma.
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis harus memeperoleh semua data tentang keadaan benjolan dan riwayat benjolan yang terjadi. Data tentang keadaan benjolan misalnya sejak kapan benjolan terjadi, ukuran awal, ukuran akhir, berapa lama pembesaran terjadi, nyeri atau tidak, ada keluhan menelan atau tidak, ada keluhan serak atau tidak, dan lain-lain.
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Inspeksi dari depan penderita, nampak suatu benjolan pada leher bagian depan bawah yang bergerak ke atas pada waktu penderita menelan ludah. Diperhatikan kulit di atasnya apakah hiperemi, seperti kulit jeruk, ulserasi. Pada palpasi harus diperhatikan lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri, kanan atau keduanya), ukuran (diameter terbesar dari benjolan, nyatakan dalam sentimeter), konsistensi, mobilitas, infiltrat terhadap kulit/jaringan sekitar, apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila tak teraba mungkin ada bagian yang masuk ke retrosternal). Auskultasi dilakukan untuk menetukan adanya bruit pada pembesaran tiroid atau tidak. Pada struma nontoksik, tidak ditemukan bruit. Bruit hanya khas pada Grave’s disease.
Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan patologi. Pemeriksaan laboratorium yang biasanya diukur untuk kasus ini adalah Free T4 dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Hasil pemeriksaan biasanya normal karena nontoksik. Pemeriksaan radiologi yang biasanya dibutuhkan adalah pemeriksaan sidik tiroid dan pemeriksaan USG. Pemeriksaan patologi biasanya untuk curiga keganasan, biasanya adalah biopsi jarum halus.
2. Struma Toksik
a. Grave’s Disease (Struma Toksik Difusa)
Grave’s disease adalah bentuk umum dari tirotoksikosis. Penyakit Grave’s terjadi akibat antibodi reseptor TSH yang merangsangsang aktivitas tiroid itu sendiri.
Gejala-gejala hipertiroidisme berupa manifestasi hipermetabolisme dan aktivitas simpatis yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun, sering disertai dengan nafsu makan meningkat, palpitasi, takikardi, diare, dan kelemahan serta atrofi otot. Manifestasi ekstratiroidal berupa oftalmopati dan infiltrasi kulit lokal yang biasanya terbatas pada tungkai bawah. Oftalmopati ditandai dengan mata melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata), dan kegagalan konvergensi. Jaringan orbita dan dan otot-otot mata diinfltrasi oleh limfosit, sel mast dan sel-sel plasma yang mengakibatkan eksoftalmos (proptosis bola mata), okulopati kongestif dan kelemahan gerakan ekstraokuler.
Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada umumnya sama dengan pemeriksaan pada struma nontoksik. Namun, pada auskultasi ditemukan bruit yang khas. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah pemeriksaan laboratorium, yaitu pengukuruan TSH, TSAb (Thyroid Stimulating Antibody), TSH, dan FT4. Hasilnya adalah TSAb meningkat, TSH turun, dan FT4 naik.
b. Plummer’s Disease (Struma Toksik Nodusa)
Penyakit ini biasanya ditemukan pada usia lanjut sebagai perkembangan dari struma nodusa kronik. Penderita dapat memperlihatkan bukti-bukti penurunan berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan goiter multi nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan pembesaran tiroid difus pada pasien penyakit Grave’s. Penderita goiter nodular toksik mungkin memperlihatkan tanda-tanda mata (melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan mata berkurang) akibat aktivitas simpatis yang berlebihan. Meskipun demikian, tidak ada manifestasi oftalmopati infiltrat seperti yang terlihat pada penyakit Graves. Gesjala disfagia dan sesak napas mungkin dapat timbul. Beberapa goiter terletak di retrosternal.                                                  
Anamnesis dan pemeriksaan fisik sama dengan struma lainnya. Pemeriksaan penunjang sama dengan Grave’s disease hanya saja tidak ditemukan TSAb.
4.      Apakah ada hubungannya berat badan menurun, TD meningkat, benjolan dileher dengan system endokrin dan metabolisme?
Gejala berat badan menurun tapi makan biasa, TD meningkat dan adanya  benjolan dileher merupakan suatu kelaianan dari system endokrin dan metabolisme, dimana yang mengalami gangguan adalah kelenjar thyroid dengan hormone-hormonnya.

5.      Bagaimana patoflow dari gejala yang ada pada scenario?




6.      Sebutkan gejala-gejala lain yang akan muncul dengan penyakit tersebut?
Gejala utama pada hyperthyroid :
1.      Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di bagian depan leher tepat di bawah Adam’s apple.
2.      Perasaan sesak di daerah tenggorokan.
3.      Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi batang tenggorokan).
4.      Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus).
5.      Suara serak.
6.      Distensi vena leher.
7.      Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala
8.      Kelainan fisik (asimetris leher)

Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya :
·    peningkatan denyut nadi
·   Detak jantung cepat
·   Diare, mual, muntah
·   Berkeringat tanpa latihan
·   Goncangan
·   Agitasi
7.      Apa klasifikasi dari benjolan dileher tersebut?
1)      Goiter congenital
Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan sering terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.
2)      Goiter endemik dan kretinisme
Biasa terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat, dekompensasi dan hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini jarang terjadi pada populasi yang tinggal disepanjang laut.
3)      Goiter sporadic
Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang terjadi lazim pada saudara kandung, dimulai pada awal kehidupan dan kemungkinan  bersama dengan hipertiroidisme yang merupakan petunjuk penting untuk diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :
o   Goiter yodium
Goiter akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara difus, dan pada beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.
o   Goiter sederhana (Goiter kollot)
Yang tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid tampak normal atau menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan epitel pipih.
o   Goiter multinodular
Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak nodulus yang dapat diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis.
4)      Goiter intratrakea
Tiroid intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut dengan tiroid ekstratrakea yang terletak secara normal.
Klasifikasi Goiter menurut WHO :
o   Stadium   O – A: tidak ada goiter.
o   Stadium O – B: goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak terlihat walaupun leher terekstensi penuh.
o   Stadium I : goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher  terekstensi penuh.
o   Stadium II: goiter terlihat pada leher dalam Potersi.
o   Stadium III :  goiter yang besar terlihat dari Darun.

8.      Apa itu T3 dan T4? Apa tujuan dari pemeriksaan T3 dan T4? Dan bagaimana cara interpretasinya? Bagaimana cara pemeriksaan T3 dan T4?
TES TIROID
Tes tiroid terdiri atas :
A.    Tes untuk mengukur aktivitas/fungsi tiroid terdiri dari :
·         Tiroksin serum (T4)
·         Tri-iodotironin serum (T3)
·         Kadar T4 bebas (FT4)
·         Kadar T3 bebas (FT3)
·         Indeks T4 bebas (FT4I)
·         Tes TSH
·         Tes TRH.
B.      Tes untuk menunjukkan penyebab gangguan fungsi tiroid :
        Tes Antibodi antitiroid
·         Antibodi Tiroglobulin (anti Tg)
·         Antibodi tiroid peroksidase (anti TPO) /Antibodi mikrosomal
·         Thyroid Stimulating Antibodies (TSAb)
C.     Tes untuk monitoring terapi :
·         Tiroksin serum (T4)
·         Tri-iodotironin serum (T3)
·         Tes FT4
·         Tes FT3
·         Tes TSH
TES FUNGSI TIROID
Tes fungsi tiroid bertujuan untuk membantu menentukan status tiroid. Tes T4 digunakan untuk menentukan suatu hipotiroidisme atau hipertiroidisme, menentukan maintenance dose tiroid pada hipotiroidisme dan memonitor hasil pengobatan antitiroid pada hipertiroidisme. Tes T3 digunakan untuk mendiagnosis hipertiroidisme dengan kadar T4 normal .
TSHs (Thyroid Stimulating Hormon sensitive) adalah tes TSH generasi ke tiga yang dapat mendeteksi TSH pada kadar yang sangat rendah sehingga dapat digunakan sebagai pemeriksaan tunggal dalam menentukan status tiroid dan dilanjutkan dengan tes FT4 hanya bila dijumpai TSHs yang abnormal. FT4 lebih sensitif daripada FT3 dan lebih banyak digunakan untuk konfirmasi hipotiroidisme setelah dilakukan tes TSHs .
Tes Thyroid Releasing Hormone (TRH) digunakan untuk mengukur respons hipofisis terhadap rangsangan TRH, yaitu dengan menentukan kadar TSH serum sebelum dan sesudah pemberian TRH eksogen. Pada hipertiroidisme klinis atau subklinis tidak tampak peningkatan TSH setelah pemberian TRH. Sebaliknya bila pasien eutiroid atau sumbu hipotalamus-hipofisis masih intak, maka hipofisis akan memberikan respons yang adekuat terhadap rangsangan TRH. Tes TRH yang normal menyingkirkan diagnosis hipertiroidisme .
Tes TRH hanya dilakukan pada pasien yang dicurigai hipertiroidisme sedangkan kadar FT4 dan FT3 masih normal atau untuk mengevaluasi kadar TSH yang rendah atau  tidak terdeteksi dengan atau tanpa hiper/hipotiroidisme yang penyebabnya  tidak diketahui .
TES UNTUK MENUNJUKKAN GANGGUAN FUNGSI TIROID
Antibodi Tiroglobulin (Tg) merupakan salah satu protein utama tiroid yang berperan dalam sintesis dan penyimpanan hormon tiroid. Tujuan tes : terutama diperlukan sebagai petanda tumor dalam pengelolaan karsinoma tiroid berdiferensiasi baik (well differentiated thyroid carcinoma). Kadar Tg akan meningkat pada karsinoma tiroid berdiferensiasi baik dan akan kembali menjadi normal setelah tiroidektomi total, kecuali bila ada metastasis. Kadar Tg rendah menunjukkan tidak ada jaringan karsinoma atau metastasis lagi. Kadarnya akan meningkat kembali jika  terjadi metastasis setelah terapi .
Pada penyakit Graves ditemukan antibodi yang mmpengaruhi resepor TSH dari sel tiroid dan merangsang produksi hormon tiroid. Antibodi ini disebut thyroid stimulating immunoglobulins (TSI). Selain TSI, ada immunoglobulin yang merangsang pertumbuhan kelenjar tiroid tanpa mempengaruhi produksi hormon. Antibodi ini disebut thyroid growth immunoglobulins (TGI) .
TES UNTUK MONITORING TERAPI
Untuk memonitoring terapi tiroid maka diperlukan tes T4 Total, T3 ,  FT4, FT3 dan TSH seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tujuan tes monitoring terapi untuk melihat perkembangan terapi berdasarkan status tiroid.
NILAI
-           Dewasa   : 50-113 ng/L (4,5mg/dl)
-          Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
-          Diatas                   : diatas 16,5 mg/dl
-          Anak-anak          : diatas 15,0 mg/dl
-          Usila                     : menurun sesuai penurunan kadar protein plasma
 RUJUKAN DAN INTERPRETASI
1.       TES T4
Nilai Rujukan :
Interpretasi :
-          Meningkat : hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan, penyakit hati kronik,  penyakit ginjal, diabetes mellitus, neonatus, obat-obatan: heroin, methadone, estrogen.
-          Menurun : hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat2an seperti androgen, kortikosteroid, antikonvulsan, antitiroid (propiltiouracil) dll.
2.      TES T3
Nilai Rujukan:
·         Dewasa         : 0,8 – 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)
·         Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
·         Infant dan anak-anak kadarnya lebih tinggi.
Interpretasi
-          Meningkat : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut, peningkatan TBG, obat-obatan:T3 dengan dosis 25 mg/hr atau lebih dan obat T4 300 mg/hr atau lebih,   dextrothyroxine, kontrasepsi oral
-          Menurun :  hipotiroidisme (walaupun dalam beberapa kasus kadar T3 normal), starvasi, penurunan TBG, obat-obatan: heparin, iodida, phenylbutazone, propylthiuracil, Lithium,   propanolol, reserpin, steroid.
3.      TES FT4 (FREE THYROXIN)
Nilai Rujukan: 10 – 27 pmol/L
Interpretasi
-          Meningkat : pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi T4.
-          Menurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena  kelebihan produksi T3.
4.      TES FT3 (FREE TRI IODOTIRONIN)
Nilai Rujukan  : 4,4 – 9,3 pmol/L
Interpretasi :
-          Meningkat : pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi T3.
-          Menurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena  kelebihan produksi T3.
5.      Tes TSH (THYROID STIMULATING HORMONE)
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5  mIU/l
Interpretasi :
-          Meningkat : hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi antitiroid pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas kelenjar hipofisis, stress emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya litium karbonat dan iodium potassium.
-          Menurun : hipertiroidisme  primer, hipofungsi kelenjar hipofisis anterior, obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin dan dopamin.
6.      TES TSHs (TSH 3rd Generation)
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5  mIU/l
Batas pengukuran : 0,002 – 20 mIU/L
Interpretasi
-          Meningkat : hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi antitiroid pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas kelenjar hipofisis, stress emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya litium karbonat dan iodium potassium.
-          Menurun : hipotiroidisme sekunder, hipertiroidisme  primer, hipofungsi kelenjar hipofisis anterior, obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin dan dopamin.
7.      Antibodi Tiroglobulin
Nilai rujukan : 3-42 ng/ml
Interpretasi :
-          Meningkat : hipertiroidisme, subakut tiroiditis, kanker tiroid yang tidak diterapi, penyakit Graves, tumor benigna, kista tiroid.
-          Menurun : hipotiroidisme neonatal.
8.      Antibodi Mikrosomal
Nilai rujukan : hasil tes negative
Interpretasi  :
Adanya antibodi mikrosomal menunjukkan penyakit tiroid autoimun, juga  dapat ditemukan pada kanker tiroid.  Pada penderita dengan pengobatan tiroksin, bila ditemukan antibodi tiroid memberi petunjuk kegagalan fungsi tiroid.
9.      TS Ab
Nilai rujukan: hasil tes negative
Interpretasi :
TSAb ditemukan pada 70-80% penderita Graves yang tidak mendapat pengobatan, 15% pada penyakit Hashimoto, 60% pada penderita Graves oftalmik dan pada beberapa penderita kanker tiroid.

9.      Siapa saja yang beresiko terkena penyakit dengan gejala tsb?
Antara orang-orang yang berisiko menghidap penyakit ini ialah : 
-          Perempuan
-          Genetik 
-          Mengidapi sakit pituitari atau endocrine yang lain 
-          Usia lebih 60 tahun 
-          Merokok 
10.  Bagaimana cara anamnesis dan dan pemeriksaan fisik dengan gejala-gejala yang ada diskenario?
Pengkajian pada penyakit gangguan kelenjar thyroid yaitu gondok/goiter adalah sbb;
1.   Pengumpulan data
Anamnese; Dari anamnese diperoleh:
1)   Identifikasi klien.
2)   Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
3)   Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
4)   Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.
5)   Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
6)   Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.
2.   Pemeriksaan fisik
1)   Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.
2)   Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
3)   Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.
4)   Sistim Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.
5)   Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
6)   Aktivitas/istirahat
insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
7)   Eliminasi
urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
8)   Integritas ego
mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
9)   Makanan/cairan
kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
10)        Rasa nyeri/kenyamanan
nyeri orbital, fotofobia.
11)        Keamanan
tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
12)        Seksualitas libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.

11.  Apa saja pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan untuk mendiagnosa penyakitnya?
1.      Pemeriksaan penunjang
o   Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
o   Kadar T3, T4
o   Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
o   Darah rutin
o   Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d +15
o   Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).
2.      Pemeriksaan radiologis
    • Dilakukan foto thorak posterior anterior
    • Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig .
    • Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

12.  Apa saja penatalaksanaan yang harus dilakukan?
Perawatan akan tergantung pada penyebab gondok.
1.   Defisiensi Yodium
Gondok disebabkan kekurangan yodium dalam makanan maka akan diberikan suplementasi yodium melalui mulut. Hal ini akan menyebabkan penurunan ukuran gondok, tapi sering gondok tidak akan benar-benar menyelesaikan.
2.   Hashimoto Tiroiditis
Jika gondok disebabkan Hashimoto tiroiditis dan hipotiroid, maka akan diberikan suplemen hormon tiroid sebagai pil setiap hari. Perawatan ini akan mengembalikan tingkat hormon tiroid normal, tetapi biasanya tidak membuat gondok benar-benar hilang. Walaupun gondok juga bisa lebih kecil, kadang-kadang ada terlalu banyak bekas luka di kelenjar yang memungkinkan untuk mendapatkan gondok yang jauh lebih kecil. Namun, pengobatan hormon tiroid biasanya akan mencegah bertambah besar.
3.   Hipertiroidisme
Jika gondok karena hipertiroidisme, perawatan akan tergantung pada penyebab hipertiroidisme. Untuk beberapa penyebab hipertiroidisme, perawatan dapat menyebabkan hilangnya gondok. Misalnya, pengobatan penyakit Graves dengan yodium radioaktif biasanya menyebabkan penurunan atau hilangnya gondok.
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).
4.   Obat antitiroid
Indikasi :
-       Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap, pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis.
-       Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium aktif.
-       Persiapan tiroidektomi
Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
Pasien dengan krisis tiroid Obat antitiroid yang sering digunakan :
Karbimazol
30-60
5-20
Metimazol
30-60
5-20
Propiltourasil
300-600
5-200


5.   Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasi :
-       Pasien umur 35 tahun atau lebih
-       Hipertiroidisme yang kambuh
-       Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
-       Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
6.   Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
-       Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid.
-       Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
-       Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif
-       Adenoma toksik atau struma multinodular toksik
-       Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul
-       Multinodular
Banyak gondok, seperti gondok multinodular, terkait dengan tingkat normal hormon tiroid dalam darah. Gondok ini biasanya tidak memerlukan perawatan khusus setelah dibuat diagnosa yang tepat.
13.  Apa saja kemungkinan komplikasi dari gejala penyakit tersebut?
Krisis tirotoksik / thyroid storm

14.  Apa organ-organ yang berperan pada gejala penyakit tersebut?

Organ yang berperan adalah kelenjar thyroid
Kedudukan kelenjar Gondok (Thyroid), berada di leher bagian depan, di bawah jakun.  Kelenjar ini menghasilkan hormon Thyroid, yang fungsinya adalah untuk : Mengatur berbagai ‘Metabolisme’ tubuh, terutama yang berhubungan dengan Pembentukan Energi, penggunaan tubuh atas hormon hormon lain dan vitamin serta mengatur pertumbuhan dan pematangan dari sel jaringan tubuh.Penyakit atau masalah yang dapat ditimbulkan berhubungan dengan produksi hormon yang berlebihan (hyperthyroidism) atau kekurangan (hypothyroidism).
Adapun fungsi kelenjar tiroid adalah:
1.         Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi
2.         Mengatur pengguanaan oksidasi
3.         Mengatur pengeluaran karbondioksida
4.         Metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
5.         Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Sel-sel thyroid adalah satu-satunya sel dalam badan yang boleh menyerap iodine yang diambil dalam pemakanan kita. Iodine ini akan bergabung dengan amino asid tyrosine yang kemudiannya akan ditukar menjadi T3 dan T4.
Dalam keadaan normal peratus pengeluaran T4 adalah 80% manakala T3 15%. Baki 5% adalah hormon-hormon lain seperti T2 dsb. 
T3 dan T4 membantu sel menukar oksigen dan kalori kepada tenaga. T3 adalah lebih aktif daripada T4.T4 yang tidak aktif itu akan ditukar kepada T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan buah pinggang. Proses ini berlaku di organ-organ lain seperti hypothalamus yang berada di bahagian otak kita. 
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi thyroid ialah TRH dan TSH. Hormon-hormon ini membentuk satu system yang kompleks.TRH dikeluarkan oleh oleh hypothalamus. TRH ini menyebabkan pituitari mengeluarkan TSH. TSH pula akan menyebabkan thyroid mengeluarkan T3 dan T4. Oleh itu apa-apa yang mencacatkan salah satu proses di atas akan menyebabkan berlakunya   masalah thyroid.