SISTEM ENDOKRIN
KELENJAR THYROID
Tujuan Instruksional
Umum
Mahasiswa
mampu menganalisa suatu masalah yang behubungan dengan gangguan sistem endokrin
Tujuan instruksional
Khusus
Mahasiswa
mampu menjelaskan anatomi fisiologi kelenjar endokrin
Mahasiswa
mampu menjelaskan kelainan pada kelenjar tiroid
Mahasiswa
mampu menjelaskan manifestasi klinis pada kelainan kelenjar tiroid
Mahasiswa
mampu menjelaskan penyebab kelainan kelenjar tiroid
Mahasiswa
mampu menjelaskan penanganan pada kelainan kelenjar tiroid
Scenario
1 ;
Ibu Ida 48 th berobat
ke dokter karena sudah 2 bulan ini berat
badan terus menurun padahal ibu ida makan seperti biasa. Dan hari ini ketika di
periksa TD nya, ternyata meningkat 150/90 mmHg, ibu Ida semakin bingung karena
dileher teraba benjolan. Dokter menyarankan untuk periksa T3 dan T4.
Key
word ;
-
Usia 48 th
-
BB menurun
-
TD meningkat 150/90 mmHg
-
Benjolan dileher
-
Periksa T3 dan T4
Pertanyaan
;
1.
Apa penyebab berat badan menurun?
2.
Apa penyebab TD meningkat?
3.
Apa yang menyebabkan benjolan dileher?
4.
Apakah ada hubungannya berat badan
menurun, TD meningkat, benjolan dileher dengan system endokrin dan metabolisme?
5.
Bagaimana patoflow dari gejala yang ada
pada scenario?
6.
Sebutkan gejala-gejala lain yang akan
muncul dengan penyakit tersebut?
7.
Apa klasifikasi dari benjolan dileher
tersebut?
8.
Apakah adanya benjolan dileher ada
hubungannya dengan kelenjar thyroid?
9.
Apa itu T3 dan T4?
10.
Apa tujuan dari pemeriksaan T3 dan T4?
11.
Bagaimana cara pemeriksaan T3 dan T4?
12.
Bagaimana cara anamnesis dan dan
pemeriksaan fisik dengan gejala-gejala yang ada diskenario?
13.
Apa saja pemeriksaan penunjang yang
harus dilakukan untuk mendiagnosa penyakitnya?
14.
Apa saja penatalaksanaan yang harus dilakukan?
15.
Apa saja kemungkinan komplikasi dari
gejala penyakit tersebut?
16.
Apa organ-organ yang berperan pada
gejala penyakit tersebut?
Jawaban ;
1.
Apa
penyebab BB menurun b.d system endokrin?
Dalam bidang endokrin dan
metabolisme, terdapat dua penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan
berat badan secara drastis yaitu :
A. DIABETES MELITUS
Diabetes
melitus (DM),
yaitu suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh meningkatnya kadar
glukosa dalam darah sebagai akibat adanya defek sekresi insulin dan atau adanya
resistensi insulin. Apabila penyakit ini dibiarkan tidak terkendali, maka akan
menimbulkan komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung,
ginjal, kebutaan dan amputasi.
Mekanisme
penurunan berat badan pada penderita DM adalah sebagai berikut:
Oleh
karena terjadi defek sekresi insulin (insulin kurang) maupun adanya gangguan
kerja insulin (resistensi insulin) mengakibatkan glukosa darah tidak dapat
masuk kedalam sel otot dan jaringan lemak. Akibatnya untuk memperoleh sumber
energi untuk kelangsungan hidup dan menjalankan fungsinya, maka otot dan
jaringan lemak akan memecahkan cadangan energi yang terdapat dalam dirinya
sendiri melalui proses glikogenolisis dan lipolisis. Proses glikogenolisis dan
lipolisis yang berlangsung terus menerus pada akhirnya menyebabkan massa otot
dan jaringan lemak akan berkurang dan terjadilah penurunan berat badan.
B.
TIROTOKSIKOSIS
Tirotoksikosis
adalah suatu sindroma klinik yang terjadi akibat meningkatnya kadar hormon
tiroid (T3) yang beredar dalam tubuh. Triyodotironin (T3) akan meningkatkan komsumsi
oksigen dan produksi panas melalui rangsangan tarhadap Na+-K+ ATPase pada hampir semua jaringan
tubuh (kecuali otak, limpa dan testis) yang pada akhirnya akan meningkatkan basal
metabolisme rate. Hormon tiroid juga akan merangsang peningkatan sintesis
struktur protein dan akhirnya menyebabkan berkurangnnya massa otot.
Penyebab
paling umum dari penurunan berat badan mendadak adalah gangguan endokrin.
Endokrin mengatur fungsi tubuh. Ketika kerjanya terganggu, tubuh akan membakar
lebih banyak kalori, menyebabkan kelenjar tiroid bekerja berlebihan yang pada
gilirannya membuat metabolisme meningkat dan tubuh tidak dapat menyerap semua
nutrisi yang dibutuhkan seperti pada penyakit hipertiroid.
2.
Apa
penyebab TD meningkat?
Tekananan darah tinggi merupakan
gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan
darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140 / 90 mmHg. Hipertensi dalam
bahasa inggrisnya adalah Hypertension, Hypertension berasal dari dua kata yaitu
Hyper yang berarti tinggi, dan Tension yang berarti tegangan. Dalam scenario,
penderita mengalami hipertensi yang termasuk hipertensi sekunder.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi
sekunder antara lain :
o
Penyakit Ginjal : Stenosis arteri
renalis, Pielonefritis, Glomerulonefritis, Tumor-tumor ginjal, Penyakit ginjal
polikista (biasanya diturunkan), Trauma pada ginjal (luka yang mengenai
ginjal), Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
o
Kelainan Hormonal : Hiperaldosteronisme,
Sindroma Cushing, Feokromositoma,
o
Obat-obatan : Pil KB, Kortikosteroid,
Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, Penyalahgunaan alkohol, Kayu manis (dalam
jumlah sangat besar)
o
Penyebab Lainnya : Koartasio aorta,
Preeklamsi pada kehamilan, Porfiria intermiten akut, Keracunan timbal akut.
Hipertiroid atau kelebihan hormon
tiroid ditandai dengan mudah kepanasan (merasa gerah), penurunan berat badan,
jantung berdebar dan tremor. Hormon tiroid yang berlebih merangsang aktivitas
jantung, meningkatkan produksi darah, dan meningkatkan resistensi pembuluh
darah sehingga menimbulkan hipertensi.
Hipotiroid atau kekurangan hormon
tiroid ditandai dengan kelelahan, penurunan berat badan, kerontokan rambut dan lemah
otot. Hubungan antara kekurangan tiroid dan hipertensi belum banyak diketahui,
namun diduga bahwa melambatnya metabolisme tubuh karena kekurangan tiroid
mengakibatkan pembuluh darah terhambat dan tekanan darah meningkat.
3.
Apa
yang menyebabkan benjolan dileher? Spesifikasinya, Klasifikasi, dan anamnesa
serta pemeriksaan fisiknya?
Benjolan
yang ditemukan pada leher bisa bermacam-macam asal dan penyebabnya. Mulai dari
kulit sampai dengan organ yang paling dalam daerah leher. Jika ditinjau dari
asalnya, benjolan tersebut bisa berasal dari kulit, jaringan otot, jaringan
saraf, jaringan pembuluh darah, jaringan tulang dan tulang rawan, kelenjar
getah bening, kelenjar tiroid, atau bisa juga berasal dari kelenjar parotis.
Penyebabnya pun bisa karena infeksi dan inflamasi, neoplasia, kista,
metastasis, dan lain-lain.
STRUMA
A.
Definisi
Kelainan
glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi seperti tirotosikosis atau
perubahan susunan kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit tiroid noduler.
Berdasarkan patologinya, pembesaran tiroid umumnya disebut struma.
B.
Klasifikasi
dan Etiologi
Berdasarkan
American Society for Study of Goiter, terdapat 4 macam klasifikasi struma,
yaitu:
1.
Struma
Nontoksik Difusa
Penyebab
dari penyakit ini bermacam-macam, misalnya defisiensi iodium; Autoimmun
thyroiditis: Hashimoto atau postpartum thyroiditis; Stimulasi reseptor TSH oleh
TSH dari tumor hipofisis, resistensi hipofisis terhadap hormon tiroid,
gonadotropin, dan/atau tiroid-stimulating immunoglobulin; Inborn errors
metabolisme yang menyebabkan kerusakan dalam biosynthesis hormon tiroid;
Terpapar radiasi; Resistensi hormon tiroid; Agen-agen infeksi; Suppuratif Akut
: bacterial; Kronik: mycobacteria, fungal, dan penyakit granulomatosa parasit;
Keganasan tiroid
2.
Struma
Nontoksik Nodusa
Penyebab
dari pernyakit ini, misalnya: kekurangan atau kelebihan iodium yang terjadi
pada pasien dengan preexisting penyakit tiroid autoimun; Goitrogenik
(obat-obatan: propiltiourasil, litium; makanan: kubis, lobak; dan agen
lingkungan: resorsinol, phenolic), riwayat radiasi kepala dan leher.
3.
Struma
Toksik Difusa
Termasuk penyebab dalam struma toksik difusa adalah
Grave’s disease, yang merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui
penyebab pastinya.
4.
Struma
Toksik Nodusa
Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level T4; Aktivasi reseptor TSH; Mutasi somatik
reseptor TSH dan Protein Ga.
Presentasi
Klinis dan Diagnosis
1. Struma
Nontoksik
Struma non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada
pasien eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik
atau proses inflamasi. Dapat difus dan simetri atau nodular. Apabila dalam
pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut
struma nodosa. Dan apabila teraba pembesaran yang batasnya tidak jelas,
kemungkinan termausk jenis difusa. Struma nodosa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme disebut struma
nodosa non-toksik. Struma nodosa atau adenomatosa terutama ditemukan di daerah
pegunungan karena defisiensi iodium. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada
usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Struma
multinodosa terjadi pada wanita usia lanjut dan perubahan yang terdapat pada
kelenjar berupa hiperplasi sampai bentuk involusi. Kebanyakan penderita struma
nodosa tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau
hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal tetapi kebanyakan berkembang menjadi
multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau
adenoma.
Diagnosis
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis
harus memeperoleh semua data tentang keadaan benjolan dan riwayat benjolan yang
terjadi. Data tentang keadaan benjolan misalnya sejak kapan benjolan terjadi,
ukuran awal, ukuran akhir, berapa lama pembesaran terjadi, nyeri atau tidak,
ada keluhan menelan atau tidak, ada keluhan serak atau tidak, dan lain-lain.
Pemeriksaan
fisik meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Inspeksi dari depan penderita, nampak suatu benjolan pada
leher bagian depan bawah yang bergerak ke atas pada waktu penderita menelan
ludah. Diperhatikan kulit di atasnya apakah hiperemi, seperti kulit jeruk,
ulserasi. Pada palpasi harus diperhatikan lokalisasi benjolan terhadap trakea
(mengenai lobus kiri, kanan atau keduanya), ukuran (diameter terbesar dari
benjolan, nyatakan dalam sentimeter), konsistensi, mobilitas, infiltrat
terhadap kulit/jaringan sekitar, apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila
tak teraba mungkin ada bagian yang masuk ke retrosternal). Auskultasi dilakukan untuk menetukan adanya bruit pada pembesaran
tiroid atau tidak. Pada struma nontoksik, tidak ditemukan bruit. Bruit hanya
khas pada Grave’s disease.
Pemeriksaan penunjang
meliputi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan
patologi. Pemeriksaan laboratorium yang biasanya diukur untuk kasus ini adalah Free
T4 dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Hasil pemeriksaan biasanya
normal karena nontoksik. Pemeriksaan radiologi yang biasanya dibutuhkan adalah
pemeriksaan sidik tiroid dan pemeriksaan USG. Pemeriksaan patologi biasanya
untuk curiga keganasan, biasanya adalah biopsi jarum halus.
2. Struma Toksik
a. Grave’s Disease
(Struma Toksik Difusa)
Grave’s disease adalah bentuk umum dari tirotoksikosis. Penyakit Grave’s terjadi akibat antibodi reseptor TSH yang
merangsangsang aktivitas tiroid itu sendiri.
Gejala-gejala
hipertiroidisme berupa manifestasi hipermetabolisme dan aktivitas simpatis yang
berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin
banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun, sering disertai dengan
nafsu makan meningkat, palpitasi, takikardi, diare, dan kelemahan serta atrofi
otot. Manifestasi ekstratiroidal berupa oftalmopati dan infiltrasi kulit lokal
yang biasanya terbatas pada tungkai bawah. Oftalmopati ditandai dengan mata
melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan
kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata), dan kegagalan konvergensi. Jaringan
orbita dan dan otot-otot mata diinfltrasi oleh limfosit, sel mast dan sel-sel
plasma yang mengakibatkan eksoftalmos (proptosis bola mata), okulopati
kongestif dan kelemahan gerakan ekstraokuler.
Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis
dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis
dan pemeriksaan fisik pada umumnya sama dengan pemeriksaan pada struma
nontoksik. Namun, pada auskultasi ditemukan bruit yang khas. Pemeriksaan
penunjang yang diperlukan adalah pemeriksaan laboratorium, yaitu pengukuruan
TSH, TSAb (Thyroid Stimulating Antibody), TSH, dan FT4. Hasilnya adalah
TSAb meningkat, TSH turun, dan FT4 naik.
b. Plummer’s Disease
(Struma Toksik Nodusa)
Penyakit ini biasanya ditemukan pada
usia lanjut sebagai perkembangan dari struma nodusa kronik. Penderita dapat memperlihatkan bukti-bukti penurunan
berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan goiter multi
nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan pembesaran tiroid difus
pada pasien penyakit Grave’s. Penderita goiter nodular toksik mungkin
memperlihatkan tanda-tanda mata (melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan
mata berkurang) akibat aktivitas simpatis yang berlebihan. Meskipun demikian,
tidak ada manifestasi oftalmopati infiltrat seperti yang terlihat pada penyakit
Graves. Gesjala disfagia
dan sesak napas mungkin dapat timbul. Beberapa goiter terletak di retrosternal.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik sama
dengan struma lainnya. Pemeriksaan penunjang sama dengan Grave’s disease
hanya saja tidak ditemukan TSAb.
4.
Apakah
ada hubungannya berat badan menurun, TD meningkat, benjolan dileher dengan
system endokrin dan metabolisme?
Gejala berat badan menurun tapi makan
biasa, TD meningkat dan adanya benjolan
dileher merupakan suatu kelaianan dari system endokrin dan metabolisme, dimana
yang mengalami gangguan adalah kelenjar thyroid dengan hormone-hormonnya.
5.
Bagaimana
patoflow dari gejala yang ada pada scenario?
6.
Sebutkan
gejala-gejala lain yang akan muncul dengan penyakit tersebut?
1. Pembengkakan, mulai dari ukuran
sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di bagian depan leher tepat di
bawah Adam’s apple.
2. Perasaan sesak di daerah
tenggorokan.
3. Kesulitan bernapas (sesak napas),
batuk, mengi (karena kompresi batang tenggorokan).
4. Kesulitan menelan (karena kompresi
dari esofagus).
5. Suara serak.
6. Distensi vena leher.
7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di
atas kepala
8. Kelainan fisik (asimetris leher)
Dapat
juga terdapat gejala lain, diantaranya :
· peningkatan denyut nadi
· Detak jantung cepat
· Diare, mual, muntah
· Berkeringat tanpa latihan
· Goncangan
· Agitasi
7.
Apa
klasifikasi dari benjolan dileher tersebut?
1) Goiter congenital
Hampir
selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan sering
terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.
2)
Goiter
endemik dan kretinisme
Biasa
terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat, dekompensasi dan
hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini jarang terjadi pada
populasi yang tinggal disepanjang laut.
3) Goiter sporadic
Goiter
yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang terjadi
lazim pada saudara kandung, dimulai pada awal kehidupan dan kemungkinan bersama dengan hipertiroidisme yang merupakan
petunjuk penting untuk diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :
o
Goiter
yodium
Goiter
akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara difus, dan pada
beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.
o
Goiter
sederhana (Goiter kollot)
Yang
tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid tampak normal atau
menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan epitel pipih.
o
Goiter
multinodular
Goiter
keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak nodulus yang dapat
diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis.
4) Goiter intratrakea
Tiroid
intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut dengan tiroid
ekstratrakea yang terletak secara normal.
Klasifikasi Goiter menurut WHO :
o
Stadium
O – A: tidak ada goiter.
o
Stadium
O – B: goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak terlihat walaupun leher
terekstensi penuh.
o
Stadium
I : goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher terekstensi penuh.
o
Stadium
II: goiter terlihat pada leher dalam Potersi.
o
Stadium
III : goiter yang besar terlihat dari Darun.
8.
Apa
itu T3 dan T4? Apa tujuan dari pemeriksaan T3 dan T4? Dan bagaimana cara
interpretasinya? Bagaimana cara pemeriksaan T3 dan T4?
TES TIROID
Tes
tiroid terdiri atas :
A. Tes untuk mengukur aktivitas/fungsi
tiroid terdiri dari :
·
Tiroksin
serum (T4)
·
Tri-iodotironin
serum (T3)
·
Kadar
T4 bebas (FT4)
·
Kadar
T3 bebas (FT3)
·
Indeks
T4 bebas (FT4I)
·
Tes
TSH
·
Tes
TRH.
B. Tes untuk menunjukkan penyebab gangguan fungsi
tiroid :
Tes Antibodi antitiroid
·
Antibodi
Tiroglobulin (anti Tg)
·
Antibodi
tiroid peroksidase (anti TPO) /Antibodi mikrosomal
·
Thyroid
Stimulating Antibodies (TSAb)
C. Tes untuk monitoring terapi :
·
Tiroksin
serum (T4)
·
Tri-iodotironin
serum (T3)
·
Tes
FT4
·
Tes
FT3
·
Tes
TSH
TES FUNGSI TIROID
Tes fungsi tiroid bertujuan untuk
membantu menentukan status tiroid. Tes T4 digunakan untuk menentukan suatu
hipotiroidisme atau hipertiroidisme, menentukan maintenance dose tiroid
pada hipotiroidisme dan memonitor hasil pengobatan antitiroid pada
hipertiroidisme. Tes T3 digunakan untuk mendiagnosis hipertiroidisme dengan
kadar T4 normal .
TSHs (Thyroid Stimulating Hormon
sensitive) adalah tes TSH generasi ke tiga yang dapat mendeteksi TSH pada kadar
yang sangat rendah sehingga dapat digunakan sebagai pemeriksaan tunggal dalam
menentukan status tiroid dan dilanjutkan dengan tes FT4 hanya bila dijumpai
TSHs yang abnormal. FT4 lebih sensitif daripada FT3 dan lebih banyak digunakan
untuk konfirmasi hipotiroidisme setelah dilakukan tes TSHs .
Tes Thyroid Releasing Hormone
(TRH) digunakan untuk mengukur respons hipofisis terhadap rangsangan TRH, yaitu
dengan menentukan kadar TSH serum sebelum dan sesudah pemberian TRH eksogen.
Pada hipertiroidisme klinis atau subklinis tidak tampak peningkatan TSH setelah
pemberian TRH. Sebaliknya bila pasien eutiroid atau sumbu hipotalamus-hipofisis
masih intak, maka hipofisis akan memberikan respons yang adekuat terhadap
rangsangan TRH. Tes TRH yang normal menyingkirkan diagnosis hipertiroidisme .
Tes TRH hanya dilakukan pada pasien
yang dicurigai hipertiroidisme sedangkan kadar FT4 dan FT3 masih normal atau
untuk mengevaluasi kadar TSH yang rendah atau tidak terdeteksi dengan
atau tanpa hiper/hipotiroidisme yang penyebabnya tidak diketahui .
TES UNTUK MENUNJUKKAN GANGGUAN
FUNGSI TIROID
Antibodi Tiroglobulin (Tg) merupakan salah satu protein utama
tiroid yang berperan dalam sintesis dan penyimpanan hormon tiroid. Tujuan tes :
terutama diperlukan sebagai petanda tumor dalam pengelolaan karsinoma tiroid
berdiferensiasi baik (well differentiated thyroid carcinoma). Kadar Tg
akan meningkat pada karsinoma tiroid berdiferensiasi baik dan akan kembali
menjadi normal setelah tiroidektomi total, kecuali bila ada metastasis. Kadar
Tg rendah menunjukkan tidak ada jaringan karsinoma atau metastasis lagi.
Kadarnya akan meningkat kembali jika terjadi metastasis setelah terapi .
Pada penyakit Graves ditemukan
antibodi yang mmpengaruhi resepor TSH dari sel tiroid dan merangsang produksi
hormon tiroid. Antibodi ini disebut thyroid stimulating immunoglobulins
(TSI). Selain TSI, ada immunoglobulin yang merangsang pertumbuhan kelenjar
tiroid tanpa mempengaruhi produksi hormon. Antibodi ini disebut thyroid
growth immunoglobulins (TGI) .
TES UNTUK MONITORING TERAPI
Untuk memonitoring terapi tiroid
maka diperlukan tes T4 Total, T3 , FT4, FT3 dan TSH seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Tujuan tes monitoring terapi untuk melihat perkembangan
terapi berdasarkan status tiroid.
NILAI
-
Dewasa : 50-113 ng/L (4,5mg/dl)
-
Wanita
hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
-
Diatas
: diatas 16,5 mg/dl
-
Anak-anak
: diatas 15,0 mg/dl
-
Usila
: menurun sesuai penurunan kadar protein plasma
RUJUKAN DAN INTERPRETASI
1.
TES T4
Nilai Rujukan :
Interpretasi :
-
Meningkat
: hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan, penyakit hati kronik,
penyakit ginjal, diabetes mellitus, neonatus, obat-obatan: heroin, methadone,
estrogen.
-
Menurun
: hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat2an seperti androgen,
kortikosteroid, antikonvulsan, antitiroid (propiltiouracil) dll.
2.
TES
T3
Nilai Rujukan:
·
Dewasa
: 0,8 – 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)
·
Wanita
hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
·
Infant
dan anak-anak kadarnya lebih tinggi.
Interpretasi
-
Meningkat
: hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut, peningkatan TBG,
obat-obatan:T3 dengan dosis 25 mg/hr atau lebih dan obat T4 300 mg/hr atau
lebih, dextrothyroxine, kontrasepsi oral
-
Menurun
: hipotiroidisme (walaupun dalam beberapa kasus kadar T3 normal),
starvasi, penurunan TBG, obat-obatan: heparin, iodida, phenylbutazone,
propylthiuracil, Lithium, propanolol, reserpin, steroid.
3.
TES
FT4 (FREE THYROXIN)
Nilai Rujukan: 10 – 27 pmol/L
Interpretasi
-
Meningkat
: pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi
T4.
-
Menurun
: hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena
kelebihan produksi T3.
4.
TES
FT3 (FREE TRI IODOTIRONIN)
Nilai Rujukan : 4,4 – 9,3 pmol/L
Interpretasi :
-
Meningkat
: pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi
T3.
-
Menurun
: hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena
kelebihan produksi T3.
5.
Tes
TSH (THYROID STIMULATING HORMONE)
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5 mIU/l
Interpretasi :
-
Meningkat
: hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi
antitiroid pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas
kelenjar hipofisis, stress emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya
litium karbonat dan iodium potassium.
-
Menurun
: hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar hipofisis anterior,
obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin dan dopamin.
6.
TES
TSHs (TSH 3rd Generation)
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5 mIU/l
Batas pengukuran : 0,002 – 20 mIU/L
Interpretasi
-
Meningkat
: hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi
antitiroid pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas
kelenjar hipofisis, stress emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya
litium karbonat dan iodium potassium.
-
Menurun
: hipotiroidisme sekunder, hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar
hipofisis anterior, obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin dan
dopamin.
7.
Antibodi
Tiroglobulin
Nilai rujukan :
3-42 ng/ml
Interpretasi :
-
Meningkat
: hipertiroidisme, subakut tiroiditis, kanker tiroid yang tidak diterapi,
penyakit Graves, tumor benigna, kista tiroid.
-
Menurun
: hipotiroidisme neonatal.
8.
Antibodi
Mikrosomal
Nilai rujukan : hasil tes negative
Interpretasi :
Adanya
antibodi mikrosomal menunjukkan penyakit tiroid autoimun, juga dapat
ditemukan pada kanker tiroid. Pada penderita dengan pengobatan tiroksin,
bila ditemukan antibodi tiroid memberi petunjuk kegagalan fungsi tiroid.
9.
TS
Ab
Nilai rujukan: hasil tes negative
Interpretasi :
TSAb ditemukan pada 70-80% penderita Graves yang tidak
mendapat pengobatan, 15% pada penyakit Hashimoto, 60% pada penderita Graves
oftalmik dan pada beberapa penderita kanker tiroid.
9.
Siapa
saja yang beresiko terkena penyakit dengan gejala tsb?
Antara
orang-orang yang berisiko menghidap penyakit ini ialah :
-
Perempuan
-
Genetik
-
Mengidapi
sakit pituitari atau endocrine yang lain
-
Usia
lebih 60 tahun
-
Merokok
10. Bagaimana cara anamnesis dan dan
pemeriksaan fisik dengan gejala-gejala yang ada diskenario?
Pengkajian pada
penyakit gangguan kelenjar thyroid yaitu gondok/goiter adalah sbb;
1. Pengumpulan data
Anamnese; Dari anamnese diperoleh:
1) Identifikasi klien.
2) Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan
pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
3) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya
pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan
terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu
dilakukan operasi.
4) Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit
dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita
gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota
keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
6) Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan
meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu
dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah
dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi,
nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.
2) Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi
thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan
kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu
diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
3) Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak
akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah
dalam jalan nafas.
4) Sistim Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya
positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan
gelisah karena menahan sakit.
5) Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah
mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya
akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
6) Aktivitas/istirahat
insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat,
atrofi otot.
7) Eliminasi
urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
8) Integritas ego
mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik,
emosi labil, depresi.
9) Makanan/cairan
kehilangan
berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya
sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
10)
Rasa
nyeri/kenyamanan
nyeri orbital, fotofobia.
11)
Keamanan
tidak
toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium
(mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C,
diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan
lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus,
lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
12)
Seksualitas
libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.
11. Apa saja pemeriksaan penunjang yang
harus dilakukan untuk mendiagnosa penyakitnya?
1.
Pemeriksaan
penunjang
o
Human
thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
o
Kadar
T3, T4
o
Nilai
normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
o
Darah
rutin
o
Endo
Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d
+15
o
Kadar
calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).
2.
Pemeriksaan
radiologis
- Dilakukan foto thorak posterior anterior
- Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig .
- Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.
12. Apa saja penatalaksanaan yang harus
dilakukan?
Perawatan akan tergantung pada penyebab gondok.
1. Defisiensi Yodium
Gondok disebabkan kekurangan yodium
dalam makanan maka akan diberikan suplementasi yodium melalui mulut. Hal ini
akan menyebabkan penurunan ukuran gondok, tapi sering gondok tidak akan
benar-benar menyelesaikan.
2. Hashimoto Tiroiditis
Jika gondok disebabkan Hashimoto
tiroiditis dan hipotiroid, maka akan diberikan suplemen hormon tiroid sebagai
pil setiap hari. Perawatan ini akan mengembalikan tingkat hormon tiroid normal,
tetapi biasanya tidak membuat gondok benar-benar hilang. Walaupun gondok juga
bisa lebih kecil, kadang-kadang ada terlalu banyak bekas luka di kelenjar yang
memungkinkan untuk mendapatkan gondok yang jauh lebih kecil. Namun, pengobatan
hormon tiroid biasanya akan mencegah bertambah besar.
3. Hipertiroidisme
Jika gondok karena hipertiroidisme,
perawatan akan tergantung pada penyebab hipertiroidisme. Untuk beberapa
penyebab hipertiroidisme, perawatan dapat menyebabkan hilangnya gondok.
Misalnya, pengobatan penyakit Graves dengan yodium radioaktif biasanya
menyebabkan penurunan atau hilangnya gondok.
Tujuan pengobatan hipertiroidisme
adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan
produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif,
tiroidektomi subtotal).
4. Obat antitiroid
Indikasi :
-
Terapi
untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap, pada pasien
muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis.
-
Obat
untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau sesudah
pengobatan pada pasien yang mendapat yodium aktif.
-
Persiapan
tiroidektomi
Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut
usia
Pasien dengan krisis tiroid Obat
antitiroid yang sering digunakan :
|
Karbimazol
|
30-60
|
5-20
|
|
Metimazol
|
30-60
|
5-20
|
|
Propiltourasil
|
300-600
|
5-200
|
5. Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasi :
-
Pasien
umur 35 tahun atau lebih
-
Hipertiroidisme
yang kambuh
-
Gagal
mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
-
Adenoma
toksik, goiter multinodular toksik
6. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk
mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
- Pasien umur muda dengan struma besar
serta tidak berespons terhadap obat antitiroid.
- Pada wanita hamil (trimester kedua)
yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
- Alergi terhadap obat antitiroid,
pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif
- Adenoma toksik atau struma
multinodular toksik
- Pada penyakit Graves yang berhubungan
dengan satu atau lebih nodul
- Multinodular
Banyak gondok, seperti gondok multinodular, terkait dengan
tingkat normal hormon tiroid dalam darah. Gondok ini biasanya tidak memerlukan
perawatan khusus setelah dibuat diagnosa yang tepat.
13. Apa saja kemungkinan komplikasi
dari gejala penyakit tersebut?
Krisis tirotoksik / thyroid storm
14. Apa organ-organ yang berperan pada
gejala penyakit tersebut?
Organ yang berperan
adalah kelenjar thyroid
Kedudukan kelenjar Gondok (Thyroid),
berada di leher bagian depan, di bawah jakun. Kelenjar ini menghasilkan
hormon Thyroid, yang fungsinya adalah untuk : Mengatur berbagai ‘Metabolisme’
tubuh, terutama yang berhubungan dengan Pembentukan Energi, penggunaan tubuh
atas hormon hormon lain dan vitamin serta mengatur pertumbuhan dan pematangan
dari sel jaringan tubuh.Penyakit atau masalah yang dapat ditimbulkan
berhubungan dengan produksi hormon yang berlebihan (hyperthyroidism)
atau kekurangan (hypothyroidism).
Adapun fungsi kelenjar tiroid adalah:
1.
Bekerja
sebagai perangsang proses oksidasi
2.
Mengatur
pengguanaan oksidasi
3.
Mengatur
pengeluaran karbondioksida
4.
Metabolik
dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
5.
Pada
anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.
Sel-sel thyroid adalah satu-satunya
sel dalam badan yang boleh menyerap iodine yang diambil dalam pemakanan kita.
Iodine ini akan bergabung dengan amino asid tyrosine yang kemudiannya akan
ditukar menjadi T3 dan T4.
Dalam keadaan normal peratus
pengeluaran T4 adalah 80% manakala T3 15%. Baki 5% adalah hormon-hormon lain
seperti T2 dsb.
T3 dan T4 membantu sel menukar
oksigen dan kalori kepada tenaga. T3 adalah lebih aktif daripada T4.T4 yang
tidak aktif itu akan ditukar kepada T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di
dalam hati dan buah pinggang. Proses ini berlaku di organ-organ lain seperti
hypothalamus yang berada di bahagian otak kita.
Hormon-hormon lain yang berkaitan
dengan fungsi thyroid ialah TRH dan TSH. Hormon-hormon ini membentuk satu
system yang kompleks.TRH dikeluarkan oleh oleh hypothalamus. TRH ini
menyebabkan pituitari mengeluarkan TSH. TSH pula akan menyebabkan thyroid
mengeluarkan T3 dan T4. Oleh itu apa-apa yang mencacatkan salah satu proses di
atas akan menyebabkan berlakunya masalah
thyroid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar