RILIS PENGAJIAN BULANAN UMT SEKALIGUS LAUNCHING LPBTQ AIKA.
Disampaikan oleh Dr.Haedar
Nashir, M.Si
Dijaman sekarang ini, umat islam
mengakui dirinya sebagai hamba allah yang beragama islam yang mana Al-Quran dan
As-Sunnah adalah sebagai tuntutannya. Akan tetapi Fenomena yang terjadi saat
ini adalah kaum muslim mengakui dirinya muslim dan menjalankan perintah membaca
al quran, akan tetapi mereka tidak memahami misi dari as sunnah dan al-quran
tersebut, dan tidak memberikan dampak perubahan pada dirinya, diilustrasikan
seperti kera yang senang dengan kelapa dan selalu dimainkannya tapi dia tidak tahu
isinya dan tidak bisa membuka kelapa tersebut.
Dan tidak sedikit pula orang
islam yang sudah menjauh atau tidak membaca al-quran tetapi mengaku dirinya muslim.
Hal ini lah menyebabkan timbulnya gejala-gejala orang yang mempraktikan sifat
syirik, tahayul dan khurafat. Solusinya adalah dengan Marja’u ila sunnah wal
quran. Marja’u disini berarti
mengembalikan kembali sesuatu ketempatnya. Maka KH. Ahmad Dahlan sebagai
mujadid menggerakan perubahan dengan Al-Ma’un
selama 3 bulan, surat Al-Ashr selama
6 bulan. Beliau juga berharap tidak hanya paham secara kognitif tetapi
dibuktikan kebenaran ayat tersebut dan dihayati betul maknanya.
Memaknai kata Al-‘ashr tidak hanya
sebatas waktu saja tapi mempunyai makna lebih yaitu kekinian atau kemoderenan Al-‘Ashriyyah.
Kenapa harus menjadi umat yang
berkemajuan? Pada dasarnya ideologi islam sama dengan ideologi muhammadiyah,
karena islam pada hakikatnya adalah agama yang membawa misi kemajuan, dalam hal
ini islam sebagai Diinul ‘Ashriyyah. Contohnya
pada surat Al-‘Alaq, Iqra yang
berarti bacalah, tapi dalam ayat tersebut tidak ada maf’ulun bih karena makna tersebut akan kembali pada asal kata
tersebut lagi. Iqra adalah suatu bentuk
atau penanda dari peradaban, maka dari itu tidak ada peradaban tanpa iqro.
Dari peradaban itulah adanya pada
islam yang mengajarkan perubahan atau Tagyiir.
Jika kita seorang muslim yang diperintahkan untuk sholat, maka sholatlah,
dan jika kita ingin tahu bahwa di saat subuh adalah angkatanpertama untuk
memulai hidup, dan jika kesiangan maka hilanglah peluangtersebut. Islam juga mengajarkan Tajdid
yangberarti pembaharuan atau revolusi.
Islam harus mampu berakulturasi
dengan budaya-budaya yang ada, bukan untuk mengikuti budaya mereka atau
substansinya akan tetapi metodenya yang diambil untuk proses dakwah, makanya
prinsip dalam berpakaian untuk muslimah adalah yang menutup aurat dan soal
model tersebut disesuaikan dengan kultur budaya. Psen Ayahanda Haedar sebelum
menutup pengajian adalah untuk mengingatkan bahwa pilar kemajuan umat adalah Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah, dan jadilah
gerakan pencerahan di Kota Tangerang tercinta ini.
Tangerang, 27 Januari 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar